Abot Dhuwur Mikul Ngisor.
Ada unkapan dalam filosofi jawa yang berbunyi “Abot Dhuwur Mikul Ngisor”,
Ungkapan ini memang sekarang tidak populer lagi. khususnya di kaum muda.
Secara harafiah ungkapan ini sulit di untuk diterjemahkan kedalam pengertian
bahasa Indonesia. Akan tetapi makna yang tersirat dari ungkapan ini,
mengacu pada besar tanggung jawab yang menjadi beban seseorang yang
telah dewasa. Dalam arti sudah memiliki keluarga, istri dan anak.
Dalam budaya kita, Lelaki memiliki kodrat sebagai pemimpin dalam rumah tangga.
Maka tuntutan untuk bertindak sebagai pemimpin menjadi hal yang mutlak diperlukan.
Inilah arti dari ungkapan “Abot Dhuwur”.
Layaknya sebagai pemimpin, tentu ada hal2 yang harus dipersiapkan.Antara lain
sikap dan budipekerti yang layak untuk di teladani, baik diteladani oleh orang
lain (teman se usia) maupun kepada istri maupun anak2nya.
Yang menjadi pertanyaan.
Ungkapan “Mikul Ngisor” bermakna implementasi tanggung jawab dalam
menjaga kelangsungan generasi penerus. Yakni tanggung jawab kepada
istri dan anak. Sebagai amanah yang menjadi tanggung jawab lelaki
sebagai pemimpin rumah tangga untuk dapat memuliakan istri, dan
mencerdaskan anak-anaknya.
Tidak sedikit kaum lelaki gagal menjalankan tanggung jawab sebagai
pemimpin rumah tangga. Karena faktor yang sepele, yakni kepincut
dengan perempuan lain. Sehingga melupakan tanggung jawabnya kepada
keluarga.
Kalau hal ini terjadi, maka akan timbul rentetan alasan
untuk menutupi segala bentuk kebohongan.
...................
Ahhhhh.kamu sekarang sudah menjadi lelaki.
Belajarlah menjadi lelaki sejati, belajarlah jadi satria sejati.
Hidup ini laksana gelanggang perkelahian,
Senjatamu adalah keputusanmu.
Kemenanganmu ditentukan oleh keputusanmu.
Kemenanganmu berada pada keputusamu untuk tetap setia
kepada dirimu,
s e t i a kepada istrimu, s e t i a kepada anak-anakmu.
Kesetiaan adalah panglimamu.
Kebenaran dan kebaikan adalah nyawamu.
Dan.....jika panglimamu terkapar, tergolek kalah bertarung dan tewas
Maka kebenaran dan kebaikan akan loncat dari dalam ragamu.
Maka kau akan berjalan terseok laksana m a y a t h i d u p yang hanya punya n a f s u.
Tak ada lagi yang berharga didalam dirimu.
Bangun wahai kesetiaan, Ayo bangun...., panglima !!!
Gunakan senjatamu.
dipetik dan disarikan dari “Bende Mataram” karya Herman Prathikto