Kalau kita merenung kilas balik jalan kehidupan yg telah kita lalui, dan bukanlah tidak mensyukuri nikmat yang telah diterima bahwa kami yakini bahwa diri kita ini lahir dari "ibu kandung" yang bernama masa lalu. Dari bibit masa lalu itu itulah kita dibuat. Pergi kemanapun kita bergerak. Apapun yg kita lakukan, atau apa yang kita impikan dimasa depan, bibit terakhir akan senantiasa ikut dan ada dalam diri kita. Dalam perjalanan kilas balik untuk mengenali bibit dan bahan dari masa lalu tadi, masih teringat jelas dalam bayangan bagaimana orang tua dan kakak kakak pertama sekali mengajarkan agama. Ini mirip dengan pengalaman banyak orang. Dan telah dicek ke banyak lingkungan bahkan lintas agama bahwa kita dijejali pelajaran agama melalui pendekatan Surga dan Neraka. Mereka yang hidup baik masuk surga dan yang jahat masuk neraka. Simpel sederhana dan mengena. Demikianlah banyak orang orang tua dan banyak orang meyakini kebenaran ini tanpa reserve.
Saya pribadi justru khawatir masuk dalam perangkap terminologi surga dan neraka. Dan bisa juga ini terjadi pada diri kita. Kendati kita sudah belajar ilmu pengetahuan, menapak karir yang tidak sedikit tetap saja bayangan akan surga dan neraka mengikuti setiap perbuatan, ucapan dan pikiran kita sebagai manusia
Segi positip :
Ada semacam pagar dan rel-rel yang membuat kita tidak jauh melanggar
etika hidup dan kehidupan.. Boleh boleh saja ada anggapan bahwa agama
gagal dalam memecahkan masalah manusia modern. Namun tanpa pagar dan
rel-rel yang bernama surga dan neraka, peradaban manusia akan jauh
lebih mengerikan dibandingkan dengan apa yang kita alami saat ini.
Segi negatip :
Pagar dan rel-rel tadi mengurangi keikhlasan, ketulusan, dan kemurnian
kita bertindak. Surga dan neraka membuat banyak manusia melakukan
"transaksi dagang" dengan Tuhan. Kalau baik surga hadiahnya dan kalau
jahat neraka hukumanya. Kemurnian ibadah dan keikhlasan tindakan
terkontaminasidengan pamrih untung dan rugi. semangat beribadah
tidak lagi berasal dariketulusan hati tetapi demi mengejar, mengharap
untuk mendapat surga.Bukankah itu rumus rumus sederhana kaum pedagang ?
Sejauh bacaan yang kami pelajari, sejauh banyak kitab suci yang saya
baca, Al qur'an, Bible, Weha, the Teaching of Budha, tidak pernah ada
tertulis bahwa dari 99 sifat Tuhan yang menyebutkan sifat Tuhan
sebagai pedagang. Sifat Tuhan yang paling dikenal banyak orang adalah
Maha Kuasa,Maha Pengasih, Maha Adil, Maha Pemaaf dst...dst..dst..
itulah sebutan dari Tuhan yang kita sembah. Tetapi sebutan Tuhan
sebagai pedagang belum pernah saya baca atau saya dengar dari Kiayi,
pendeta, Pastur, Rahib, pemuka agama atau kaum bijak yang lain.
Dalam pemikiran kaum sufi penganut Haqmailyah, dalam frame perenungan
seperti diatas ada terbetik keinginan untuk "membakar Surga dan
Menyiram Neraka". Bukan untuk berperang atau mbalelo kepada Tuhan.
Namun untuk menghilangkan segala bentuk pamrih guna melapangkan jalan
keikhlasan ketulusan dan kemurnian dalam bertindak berperilaku baik
dan berdo'a.
Dalam agama manapun, memang ada serangkaian tata cara bertindak,
beribadah maupun berdo'a yang sama sahnya. Hanya saja
dalam cara mana pun pamrih bisa menciptakan "transaksi dagang"
dengan Tuhan. Dan inilah yang menghambat ketulusan, keikhlasan
serta kemurnian.
Dapat kita bayangkan kalau kita berdo'a dengan mengharap mendapat
surga atau harapan bahwa gaji dinaikan bulan depan. Atau juga kita
menyantuni orang miskin dengan harapan mendapat imbalan yang lebih
besar dari Tuhan. Bahkan diliput oleh media massa agar bisa disebut
sebagai orang dermawan. Bukankah keheningan, kekhusyuan, kemurnian
dan kebersihan kita berdo'a dan bertindak menjadi terganggu ?
Ini mirip kaki dan badan kita yang bersih berjalan diatas jembatan
yang kotor. Itulah nasib siapa saja yang berdo'a dan bertindak yang
selalu disertai oleh pamrih diujung niat. Sehingga seolah-olah
manusia mendikte Tuhan untuk memberikan semua apa yang kita minta.
Dalam takaran uraian seperti diatas terlintas kekecewaan terhadap
warna awal agama yang masuk kedalam pikiran kita. Mengapa kita
dikenalkan surga dan neraka begitu rekat. Imbalan Surga dan hukuman
neraka yang diposisikan didalam otak kita. Bukan dikenalkan pada
perilaku budi pekerti yang baik Bukan diperkenalkan pada Keikhlasan
dalam bermasyarakat. Bukan dikenalkan pada ketulusan, kecintaan,
kedamaian dan kecintaan pada Allah SWT tanpa mengharap satu sen
pun imbalan.
Tentu saja pandangan ini bagi saya bukanlah pandangan
populer dimata masyarakat. Sudah barang tentu harus bersiap untuk
menrima hujatan atas kekecewaan terhadap warna awal agama yang masuk
kedalam otak saya. Tetapi memang perlu berani untuk menyatakan
keinginan "membakar Surga dan menyiram Neraka" yang ada didalam
alam pikiran, guna mendapatkan kemurnian, ketulusan agar segala
tindakan dan perbuatan bebas dari Rasa pamrih.
Jangan lagi dialam pikiran kita bertanya apa hasil dari ibadah yang
dilakukan. "just fire and forget". Bagi mereka yang hdiup dikelilingi
kaidah-kaidah hasil mungkin akan sangat membingungkan. Namun jika
kita menyelami prinsip prinsip yang mengfalir didalam kehidupan ia
akan bisa mencerna dengan lebih mudah. Laksana melihat siklus Hujan
yang secara kasat mata jatuh dari langit. Namun sejatinya berasal
dari air laut yang disinari matahari.
Wassalam
Bambang Sarkoro