Assalamu'alaikum wr.wb
Semua orang pasti memilih untuk tidak punya musuh, terlepas dianya orang biasa
atau orang luar biasa, petani, kaya, miskin, tua atau muda, orang yang gagal
atau orang yang berhasil. Semuanya tak berniat untuk punya musuh.
Sebut saja Dalai Lama. Seorang tokoh yang dikenal dengan senyum yang sejuk. Beliau memiliki punya musuh yaitu negeri Cina yang menduduki Tibet.
Mahatma Gandi. Sosok yang terkenal anti kekekerasan dalam berjuang. Ia tewas ditembak seseorang. Hidupnya berakhir diujung peluru. John Lennon yang terkenal dengan karya-karya yang menyentuh perasaan dan dikagumi di seantero dunia.Konon akhir hidupnyatragis tewas diujung peluru.
Kalau orang yang memiliki kualitas seperti itu, dengan kualifikasi sehebat itu,
tetap saja ditakdirkan memiliki musuh, apalagi kita yang hanya berkualitas
biasa-biasa saja. Yang jelas musuh adalah kenyataan yang harus diterima oleh
siapa saja yang masih bernapas. Bahkan manusia yang sudah matipun masih
menyisakan musuh.
Secara jujur harus diakui, kita semua tidak menyukai musuh. Secara lebih
khusus, karena musuh menghadirkan godaan-godaan yang tidak kecil. Musuh
memancing kita untuk tidak sabar. Musuh membuat kita tidak bisa tidur.
Musuh memproduksi manusia menjadi stress. Bahkan tidak jarang terjadi,
musuh membuka pintu-pintu kehidupan yang berbahaya seperti pembunuhan,
penganiayaan dan pemerkosaan. Dan seberapa bahayapun kehadiran musuh,
kita manusia tidak diberi pilihan lain kecuali harus menerimanya sebagai
sebuah kenyataan hidup.
Tetapi kalau kita mau berfikir lebih dalam. Dan secara dialektis membuka perspektip positip atas hadirnya musuh yang tak bisa dihindari. Kita bisa menarik garis positip bahwa sebenarnya musuh bisa menghadirkan fungsi- fungsi manfaat yang dapat memberikan kontribusi dalam pembentukan sejarah hidup yang baik.
Kalau saja kita bisa bening dan jernih. Dengan sedikit kejernihan
izinkan untuk bertutur, bahwa sebenarnya musuh adalah Kurir yang diutus
Allah SWT untuk mebawa hadiah-hadiah yang amat berguna bagi kita semua.
Sebut saja hadiah itu yang bernama kesabaran dan kearifan hidup.
Memang pada awalnya rasa takut mengelilingi diri, Bahkan mungkin berusaha
untuk lari menghindari. Tetapi tanpa keberanian menjemput musuh , maka tak
ada kesabaran dan kearifan hadiah dari Allah SWT yang kita dapat. Dan
selama hidup, diri ini dibelenggu rasa takut.
Demikian hal lain Hadiah dari Allah SWT yang disebut keberanian.
Hadiah itu dibawa oleh kurir yang bernama musuh. Siapa saja yang takut
bertemu musuh, maka pada saat yang sama ianya sedang memproduksi diri
menjadi penakut dan pengecut.
Alasan-alasan hidup tenang dan damai dengan cara tidak bertemu musuh
bisa saja diterima, namun jangan pernah lupa, musuh membawa dan membangkitkan
kekuatan-kekuatan dari dalam (inner strength) yang hanya bisa dimiliki
oleh siapa saja yang berani menghadapinya.
Hadiah lain dari Allah SWT yang dibawa secara amat rajin oleh musuh
adalah kedewasaan dan kematangan pribadi. Memang diakui banyak yang
mengeluh kenapa dipertemukan dengan musuh-musuh yang demikian kejam
dan arogan. Namun, kesediaan untuk senantiasa maju dan bertemu musuh,
menghadiahkan sejumlah kedewasaan dan kematangan pribadi.
Kualitas kedewasaan, kematangan yang tidak pernah diajarkan di sekolah
manapun.
Memang diakui awalnya, bahwa hadirnya musuh sangat mengganggu
kedamaian hidup. Namun begitu tubuh dan jiwa ini dibiasakan untuk
selalu bertemu musuh dengan tenang, maka kualitas kedamaian perlahan
bangkit dan menguat.
Disisi lain kemarahan dan kebencian selalu mengikuti siapa saja yang
malas bertemu musuh, dengan sedikit ketenangan diyakini bisa mengusir
kemarahan dan kebencian.
Bercermin dari sini, tak ada lagi alasan untuk takut pada musuh, Sebab,
ia adalah kurir pembawa hadiah-hadiah mengagumkan yang dikirim Allah
SWT untukkita semua.
Wassalam
Bambang Sarkoro
1 Juni 2003