Luar dalam Sama
Judul diatas adalah terjemahan bebas dari filsapat sastra Jawa yang berbunyi
“Njobo njero podo” yang melekat pada tokoh wayang Bima, kata-kata ini adalah
idiom dari kata jujur..
Jika kita tanya kepada orang banyak. “Apakah ada orang jujur ?, kalau benar-benar
ada, siapakah dia ?”.
Kalau jujur di ukur dengan materi atau uang, mungkin sulit untuk menemukanya.
Tetapi jika jujur diukur dengan rasa, maka sangat mungkin mendapatkan ribuan,
ratusan bahkan jutaan orang jujur.
Contoh sederhana, kalau dicubit pasti sakit rasanya. Karena rasa tidak pernah
berbohong. Namun apakah lesan kita mengatakan sesungguhnya ? Dihadapan pacar
Ia mengatakan “ah tidak sakit”, lain yang dirasakan didalam sini, lain pula
yang dikatakan keluar.
Bila kita meyakini sesuatu, dan kita mengimplementasi keyakinan itu sebagai
aktivitas lahiriah, maka output yang kita peroleh akan sama dengan sesuatu
yang kita yakini, dalam bentuk kemampuan lahiriah.
Dalam artian keyakinan yang kita yakini, akan menjadikan
diri kita seperti apa yang diyakini. Ketidak jujuran meng-implementasikan
keyakinan dalam akitvitas lahirah menyebabkan nilai diri menjadi rendah.
Allah SWT memberikan keyakinan berupa ilmu2 kedalam diri kita, sebut saja
memberikan software. Dan memberikan kemampuan pada raga sebagai hardware.
Allah SWT akan memberika penilaian terhadap kemampuan dalam menggunakan
keyakinan. Sebaliknya Allah tidak memberikan penilaian apa-apa terhadap keyakinan.
Dalam filsapat Jawa, mengatakan bahwa: " Wong bodo kalah karo wong pinter.
Wong pinter kalah karo wong kuwoso, wong kuwoso kalah karo wong begjo" (artinya:
Orang bodoh kalah oleh orang Pandai, Orang pandang kalah oleh orang yang punya
kuasa, sedangkan orang yang punya kuasa kalah dengan orang yang mujur).
Logikanya, andai diri kita memiliki titel akademik berderet, belum tentu kita akan lebih
kaya dibanding dengan orang lain yang tidak memiliki titel akademik. Banyak orang
yang berpendidikan biasa saja, tetapi mereka jauh lebih kaya.
Artinya ilmu/keyakinan yang ada didalam diri, tidak memberi jaminan untuk membuat
kita jadi kaya. Tidak memberi jaminan untuk membuat diri kita menjadi orang yang
punya kuasa. Lalu apa yang bisa menjamin ?
Yang memberi jaminan adalah apakah kita menggunakan kemampuan/ potensi diri kita.
sehingga keyakinan ilmu yang kita miliki terjabar keluar. Menyimpan ilmu didalam
diri, tanpa di implementasikan, kita hanya akan terlihat sebagai orang bodoh. Tidak
sama antara luar dan dalamnya.
Wassalam
Bambang Sarkoro