TIGA TAHAP
Kalau kita memahami teori kebutuhan berdasarkan hiraki Maslow. Dimana kebutuhan dasar
manusia adalah kebutuhan yang utama, yakni sandang, papan, pangan dan sexual.
Mumpung ada sejawat kita yang beberapa hari lagi akan melaksanakan akad nikah.
Maka tulisan ini diturunkan sebagai “hadiah” ular-ular manten.
Untuk kebutuhan Sandang, Papan dan Pangan, umumnya bisa dlakukan usaha secara
pribadi. Segala bentuk keputusan bisa diputuskan sendiri.
Tentu sangat berbeda dengan kebutuhan sexual mendapatkan pasangan hidup.
Keputusanya tidak bisa bisa dibentuk sendiri. Tentu harus ada kesepakatan, minimal
dari dua orang yang akan mengarungi hidup berpasangan seumur hidup. Yang terikat
oleh pernikahan yang syah berikut pernik2 syarat yang harus dipenuhi.
Bicara soal pasangan hidup. Tentu ini bukan soal yang gampang. Karena dbalik hidup
berpasangan ada bumbu-bumbu lain yang bisa menjadi lem perekat dan juga ada masalah
lain yang bisa saja membuat berpisah.
Kronologi hidup berpasangan memiliki 3 tahap, dimulai dari :
1. Rasa Suka/Sayang....., berlanjut menjadi
2. Rasa Kasih dan terakhir masuk menjadi.....
3. Rasa Cinta.
Ada tiga “magic word” yakni "Suka/Sayang", "Kasih" dan "Cinta"
Sangat perlu dipahami oleh semua sejawat Margaluyu Pusat. Setiap kata memiliki arti yang
lungguh maknanya berbeda. Dalam keilmuan Margaluyu Pusat wilayah ini disebut dengan ilmu Katuranggan.
Lungguh makna dari masing-tahap adalah sebagai berikut :
1. Rasa Suka / Sayang
Kalau hati kita sudah menetapkan tambatan hati pada seseorang. Atau tertarik pada
seseorang Maka diri kita masuk kedalam area Rasa Suka/Sayang.
Rasa Suka/Sayang mendorong emosi menjadi tidak stabil. Bahkan bisa menjadi salah tingkah.
Terlebih lagi dorongan sexual mulai melakukan drive. Yang mana dibutuhkan pengendalian yang ektra ketat.
Menempatkan Rasa Suka/sayang pada tempat yang baik dan benar merupakan tanggung
jawab terbesar dan menjadi tugas utamanya. Jika kita suka/sayang dengan seseorang.
Tanggung jawab kita adalah harus berani menjaga martabat si tambatan hati.
Harus berani menjaga kehormatan si tambatan hati. Baik kehormatan diri, raga
maupun nama baiknya. Kendala di Rasa Suka/Sayang ini adalah terkontaminasinya
Rasa Suka/Sayang dengan kebutuhan sexual. Sehingga bisa mengabaikan tanggung
jawab yang harus dilakukan.
Kesimpulanya: Rasa Suka/Sayang mulai terjadi di
masa pendekatan sampai masa pacaran.
Hints: Jika kita sudah punya keluarga
(istri atau suami), maka Rasa Suka/Sayang kepada lawan jenis harus sudah hilang
dibuang jauh-jauh, dari pikiran dan angan-angan kita. Bila Rasa Suka/Sayang itu
muncul berarti Evolusi Kesadaran kita bergerak mundur kebelakang.
2. Rasa Kasih.
Rasa Kasih dimulai dari jenjang akad nikah. Masing-masing pihak memiliki tanggung
jawab sesuai kodrat alami masing-masing. Pihak laki-laki bertanggung jawab sebagai
khalifah buat rumah tangganya dengan memberkan nafkah lahiriah dan bathiniah.
Keduanya harus berani untuk saling mengerti antara tugas dan kewajiban masing-masing.
Dalam artian saling Kasih ....saling memberi. Mutual service harus berjalan. Pihak
laki-laki memberikan service kepada istri, dan sebaliknya pihak istri juga memberikan
service kepada pihak suami. Saling memberi dengan service level yang terbaik.
Ketidak seimbangan service level akan memicu keretakan rumah tangga.
Kesimpulan: di area Rasa Kasih peran sexual semakin dominan.
3. Rasa Cinta
Rasa Cinta tumbuh pada saat diri kita tidak lagi membutuhkan peran sexual dalam kehidupan
rumah tangga. Contoh nyata banyak kita lihat sehari-hari. Anak yang cinta sama kedua
orang tuanya. Kakek dan nenek kita mereka hidup sudah tidak lagi memerlukan aktivitas
sexual. Tetapi mereka tidak dapat hidup terpisah. Itulah Arti Cinta yang benar sebenar-benarnya.
Kesimpulan: Rasa Cinta tidak lagi memerlukan aktivitas seksual.
Dua tahap yakni Rasa Suka/Sayang, Rasa Kasih, tidak bisa terlepas dari dorongan sexual.
Dalam artian dominasi aktivitas seksual masih sangat tinggi. Oleh karena itu kita harus tanggap
dan jangan sampai gagal mensikapinya. Banyak keributan rumah tangga terjadi karena kita tergoda
dan gagal mensikapi atau salah menempatkan Rasa Suka/Sayang dan Rasa Kasih pada orang lain yang tidak tepat.
Jika kita ingin membangun networking, memiliki banyak teman. Lakukan dengan Rasa Cinta.
Karena networking atau memperbanyak teman harus benar-benar bebas dari keinginan seksual.
Gagal mensikapi dalam berteman atau hancurnya suatu persahabatan, karena dpengaruhi Rasa
Suka/Sayang atau Rasa Kasih yang bersifat sexual oriented.
Benang merah yang ingin disampaikan disini, adalah jangan sampai kita terjebak karena salah
dalam melungguhkan rasa yang ada didalam diri kita. Oleh karena itu, tiga tahap Rasa ini,
perlu dan sangat penting untuk dipahami agar kehidupan diri kita tidak terombang ambing oleh
galaunya perasaan. Karena gagal melungguhkan rasa pada tempat yang baik dan benar.
Jangan sampai raga dan jiwakita dikuasai oleh jahatnya janfsu angan-angan pkirian. Karena yang
namanya angan-angan kalau gagal disikapi, gagal dikuasai, maka perjalan hidup kita akan terjerembab
pada kepalsuan.