Ratu Adil berwajah miskin
Ditengah galau dan frustasi masyarakat
dalam yang tidak menentu, harapan banyak ditumpu akan
kehadiran Sang Ratu Adil, atau juga munculnya Satria Piningit. Harapan
semacam ini telah ada sejak jaman VOC sampai saat sekarang. Mungkin saja ia akan
menjadi embicaraan di sepanjang hidup bangsa kita karena terdapat unsur atau
sisi mistik dibalik harapan yang ada.
Setiap ada pemimpin yang membawa aroma kharismatik
tak terhindarkan awam menyangka atau mentafsirkan ianya adalah satria piningit
yang akan menjadi ratu adil. Jelasnya awam padasaat ini sangat-sangat mengharap figur
pemimpin sejati yang bisa menjadi panutan.Di banyak situasi saat ini yang kita sama-sama
cermati tidak ada satupun masalah yang bisa diselesaikan tanpa hadirnya pemimpin
pemimpin sebagai perekat tembok persatuan. Oleh karena itu manakala perekat ini
berkualitas rendah, maka tembok persatuan akan sangat rentan dan mudah keropos.
Ditengah kualitas kepemimpinan saat ini,
terkesan mencuat praktek praktek penuh lumpur kekotoran karena terbatasnya
wacana untuk menjalankan kebaikan dan lebih mementingkan mempetahankan diri
sebagai kepala semut dibanding menjadi buntut gajah.
Tak satupun dari mereka berkata tidak membela
rakyat. Semuanya berkata adalah pembela rakyat. Untuk menampakan topeng wajah
rakyat yang dipakai yang memiliki warna-warni sesuai dengan dari asalnya
komunitas mana dia berangkat menjadi pemimpin. Awam tak akan tahu apa rupa wajah
dibalik topeng itu, apalagi untuk tahu apa isi hati dibalik hatinya.
Wajah asli baru bisa terkuak dan transparan
manakala lumpur kekotoran harus menjadi beban orang banyak untuk membersihkan.
Kalau saja banyak orang bisa melihat wajah sebelumnya, dan dapat berkomunikasi
dengan wajah tadi, kualitas kepemimpinan tidaklah terlalu amat sulit
diketemukan.
Sebenar-benarnya kualitas kepemimpinan sudah
ada didalam diri kita masing masing. hanya saja naluri budi pekerti belum
berhasil memimpin pikiran kita yang sepanjang hidupnya dikuasai peraturan
langit dan bumi, dimana pikiran gagal menyambungkan kebaikan peraturan itu
dengan naluri budi pekerti. Yang menyebabkan wajah
diri berkosmetikan kepentingan sesaat tidak lagi berwajah cantik, tampan, pembela
rakyat Bekomunikasi untuk ketemu wajah dibalik
wajah memang sesuatu perjalanan yang unik, meski menggunakan sarana yang
sama, yaitu kendaraan pembela rakyat. Keunikanya ibarat sidik jari.
yang berbeda dari satu orang ke orang lain. Manakala naluri budi pekerti tidak
sama dengan wajah kepemimpinan yang diharapkan orang banyak. Maka wajah itu
terlihat sebagai Ratu Adil berwajah miskin.
Wasalam
Bambang Sarkoro
Sabtu 21 Sep 2002